B-Boy Korea Curi Perhatian Remaja Indonesia


     Pertunjukan atraksi B-Boy yang menggabungkan gerakan break dance dan musik tradisional Korea oleh Myo Sung Dance Company menyita perhatian puluhan orang yang tengah berada di Pusat Perbelanjaan Senayan City, Senin (12/5) siang.

Sebagian besar penonton adalah anak-anak muda. Kalangan remaja putri bertepuk tangan dan berteriak histeris ketika satu per satu personil Myo Sung Dance Company naik ke atas panggung dan memulai atraksi mereka.

Enam anak muda asal Korea bergantian menunjukkan kebolehan dalam popping dan locking. Chadol, Kim Min Soo, Sung Min, Sung Joon, Dae Hyuk, dan Sol, semakin bersemangat ketika penonton terus bertepuk tangan setiap kali mereka melakukan gaya yang atraktif dan unik seperti handstand atau berjalan seperti robot.

Mereka kompak menari dalam kostum serba putih dipadu ikat pinggang lebar dari kain tradisional Korea. Keringat terlihat bercucuran di tubuh mereka. Beberapa menit saja bergerak, keringat mereka membasahi kostum putih longgar yang dipadu ikat pinggang kain tradisional Korea.

"Kami tidak menyangka tanggapan penonton sangat meriah dan antusias. Kami berlatih keras selama 1,5 bulan terakhir, minimal lima jam per hari, dan rasanya tidak sia-sia karena sambutan masyarakat Indonesia benar-benar membuat kami senang," kata salah satu personil, Kim Min Soo.

B-Boy ala Myo Sung Dance Company menawarkan pertunjukan break dance yang berbeda dengan B-Boy yang berkembang di Barat. Kelompok ini memadukan tari klasik, break dance, dan gerakan kontemporer menjadi satu. Iringan musiknya juga sangat variatif, mulai dari musik tradisional, repertoar klasik dari Mozart yang dimainkan dengan Gaya Gem (alat musik tradisional Korea yang dipetik seperti sitar).

Awal masuk media


      Pada 1980, dengan bantuan budaya pop dan MTV, break dance dibawa dari Amerika menuju bagian dunia yang lain sebagai fenomena budaya yang baru. Musisi seperti Michael Jackson populer karena beberapa gaya break dance di video musik, dan film seperti Flashdance, Wild Style, Beat Street, Breakin', dan Breakin' 2: Electric Boogaloo yang juga mendukung penampilan breakdance. Sekarang, banyak ''b-boy'' dan ''b-girl'' tidak senang media karena perubahan fokus breakdance untuk uang dan berlebihan menggunakan ''power move''. Breakdance juga di buat pada dokumenter film: The Freshest Kids: A History of the B-Boy, film ini merekam budaya, asal, perubahanm dan gaya-gaya breakdance diiringi musik Hip Hop.

Style (fashion)


    Bagi para breakers, selain musik, fashion atau wardrobe juga bagian yang sangat penting, karena menurut mereka fashion merupakan identitas diri mereka sendiri. Breakers pada tahun 1980'an memilih brand Adidas, Puma atau Fila untuk sepatu yang mereka gunakan, karena sepatu dari brand ini memiliki tingkat kelenturan yang sangat nyaman dan cukup menunjang mereka dalam melakukan gerakan-gerakan pada tarian ini. Beberapa breakers bahkan sengaja menggunakan topi, t-shirt dan sepatu dengan brand yang sama sehingga terlihat lebih serasi. Sebagai aksesori tambahan beberapa ''Breaker'' membawa tapesebagai pemutar musik. Pada akhir-akhir ini para b-boys juga sering mengenakan kostum seperti b-boys pada era tahun 80'an, karena fashion para b-boys pada tahun tersebut benar-benar sangat nyaman dan cukup sederhana, sehingga mempermudah ruang gerak mereka.
Selain identitas dari para b-boys, ternyata beberapa atribut yang mereka gunakan ini juga memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pelindung

Musik



           Musik menjadi salah satu elemen penting dalam breakdance, karena para breakers tentu tidak akan bisa menari tanpa musik. Bahkan kadang-kadang musik-musik yang seru dapat menjadi sebuah inspirasi tersendiri bagi para breakers ini. Musik-musik dengan irama break beat merupakan menu wajib di sini, yaitu dengan campuran musik-musik lain seperti Jazz, Soul, Funk, Electro, Electro Funk, Disco, Hip Hop, sampai R&B. Musik-musik ini tidak dibiarkan murni begitu saja, karena ada DJ yang bertugas mengolah musik tersebut sehingga akan terdengar sangat serasi dengan gerakan-gerakan yang ada.

Tempo pada musik yang dimainkan disini berkisar antara 110 hingga 135 beats per minute (BPM), sedangkan di Eropa untuk urusan musik memang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan Amerika. Kalu di Amerika para breakers menggunakan black music untuk mengiri tarian mereka, maka Eropa memilih jenis musik electronica dan rock untuk mengiringi mereka. Musik yang berbeda tersebut menjadi sebuah warna tersendiri di dunia ini, dan gerakan-gerakan yang mereka mainkan pun terlihat lebih extreme dibandingkan dengan gerakan para breakers yang menggunakan musik-musik pada umumnya.